Tuesday, October 27, 2009
Change and Continuity: Melejitkan Perubahan yang Manusiawi
Change and Continuity menjadi tagline Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Kedua. Bagaimana realitas yang akan terwujud? Keberlanjutan tanpa perubahan diprediksikan akan menjadi warna dominan di akhir masa kabinet ini.
Ejekan masyarakat ketika ada pergantian menteri adalah ganti menteri ganti kebijakan dan ganti program. Menteri yang lama semisal lebih menekankan pendidikan yang humanis, menteri baru lebih ke arah link and match. Logika masyarakat awam biasa menyimpulkan pergantian kebijakan lebih terkait persoalan distribusi rejeki pada kantong-kantong ekonomi baru. Dalam kenyataannya, ganti menteri ganti kebijakan melelahkan semua pihak. Berjalan ke arah barat separuh, reorientasi dan berubah arah yang berbeda. Orang didorong untuk berpikir jangka pendek, asal bapak menteri saat ini senang. Terciptalah perubahan setengah hati.
Disisi lain, fenomena yang tak jarang muncul adalah adanya menteri yang bermain aman. Biaya sosial politik sangat besar untuk dapat menempati posisi baru. Semakin besar biaya maka semakin kecil resiko yang akan diambil. Terlalu besar taruhannya. Ujung-ujungnya sang menteri hanya menjalankan semua kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh menteri pendahulunya. Orang-orang dalam departemen tidak terstimulasi melahirkan gagasan-gagasan baru. Jadilah kemandegan perubahan.
Dua fenomena ini terkesan kontrakdiktif. Melakukan perubahan kebijakan menteri sebelumnya salah. Melanjutkan kebijakan menteri sebelumnya juga salah. Pada titik ini, pemimpin perubahan dituntut berpandangan luas. Menggunakan helicopter view untuk melihat keseluruhan horizon. Berpikir sistem untuk mengenali benang merah antara dua faktor yang terpisah waktu tahunan. Tanpa pandangan yang luar, pemimpin perubahan akan bertindak reaksioner, menentukan tindakan yang menguntungkan pada saat ini dan pada posisinya.
Salah satu tagline Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Kedua: Change and Continuity adalah jawaban paradoks yang berpotensi berhasil menyelesaikan kontrakdiksi 2 fenomena tersebut. Susilo Bambang Yudhoyono menegaska tak perlu malu melanjutkan kebijakan menteri sebelumnya dan jangan ragu melakukan perubahan atas program sebelumnya yang tidak efektif. Berpotensi berarti prinsip tersebut akan efektif apabila para menteri mempunyai kapasitas untuk mengelola perubahan. Tanpa kapasitas itu, tagline change and continuity akan melahirkan jurus gado-gado yang tak jelas rasanya.
Kapasitas sebagai pengelola perubahan mensyaratkan kesadaran penuh bahwa perubahan yang dilakukan adalah perubahan sistem manusia. Sama sekali berbeda dengan membentuk sebentuk tanah liat. Sistem manusia mempunyai kecerdasan yang kompleks. Tidak menerima begitu saja tindakan yang dikenakan pada sistem tersebut. Semisal, pemberlakuan absensi menggunakan fingerprint dengan pemberian insentif belum tentu membentuk perilaku disiplin bekerja. Bisa jadi hanya membentuk perilaku disiplin dalam melakukan fingerprint. Setelah itu, sudah menjadi urusan setiap orang.
Pengelolaan perubahan (managing change) sistem manusia harus memahami psikologi perubahan. Bagaimana individu mengalami perubahan? Bagaimana sekelompok orang menjalankan perubahan? Bagaimana sistem manusia berubah? Tanpa pemahaman akan psikologi perubahan, perubahan yang terjadi adalah perubahan diatas kertas atau perubahan portofolio. Diatas kertas semuanya berubah, senyatanya sama sekali tidak terjadi perubahan. Contoh paling mudah, terkadang inisiatif perubahan yang telah menghabiskan sekian banyak biaya dan waktu tetap disambut dengan pesimisme dan sinisme bahkan dari anggota organisasi sendiri.
Jonas, H., Fry, R., & Srivastva, S, pelopor Appreciative Inquiry, menyatakan 3 faktor yang menyehatkan sebuah organisasi adalah continuity, novelty (atau change) dan transition. Riset menunjukkan bahwa organisasi visioner dan para pemimpinnya mempunyai kapasitas untuk belajar dan menerapkan pelajaran terbaik dari masa lalu (continuity), menciptakan ide dan tindakan kreatif (novelty/change) dan mendorong perubahan nyata dalam sistem dan perilaku yang mengarah pada keadaan yang diidealkan (transition). Secara mudah, penjelasannya demikian.
Bayangkan saja anda ingin pindah rumah bulan depan. Apa yang anda lakukan? Kita akan menentukan barang atau perabot rumah lama yang akan kita bawa ke rumah baru (continuity). Apabila cukup banyak barang baik yang dapat kita bawa maka akan membangun keyakinan kita mampu pindah rumah dalam jangka waktu dekat. Apabila sedikit atau tidak ada maka kita akan bimbang berhitung untuk pindah rumah atau melengkapi perabotan terlebih dahulu.
Pindah rumah tentu perlu kejelasan rumah baru yang akan kita tempati (novelty/change). Apabila kita mempunyai kejelasan bahwa rumah baru lebih nyaman maka kita akan semakin optimis dan gembira untuk pindah rumah. Tanpa kejelasan akan rumah baru membuat kita pesimis untuk pindah rumah. Mulai bertanya, untuk apa pindah rumah bila rumah baru sama saja keadaannya.
Proses kepindahan tentu butuh memindahkan sebagian barang atau perabotan dari rumah lama dan rumah baru (transition). Apa yang akan kita pindah? Tentu barang atau perabot terbaik yang kita miliki. Barang atau perabot yang berharga menurut kita, sang pemilik rumah. Kita tentu tidak akan membawa barang yang sudah tidak berguna atau tak ada lagi artinya. Untuk apa selain merepotkan proses kepindahan.
Continuity berdampak psikologis pada organisasi yang dipimpin oleh para menteri itu. Ada kejelasan terhadap hasil perubahan yang telah dicapai yang berakibat pada: (i) Penguatan komitmen terhadap perubahan; (2) Kejelasan pengambilan keputusan; (3) Konsisten terhadap nilai dan misi; (4) Keberanian untuk bertindak; (5) Terbentuk dasar organisasi pembelajaran; (6) Orientasi berpikir jangka panjang; (7) Kemampuan menyesuaikan perubahan. Dampak positif ini dapat dicapai dengan penemuan tindakan dan aset terbaik organisasi melalui proses dialog (berbagi pengalaman puncak) multipihak.
Novelty/Change mempunyai dampak yang berbeda terhadap organisasi yang melakukan suatu perubahan. Adanya keberanian untuk menciptakan gagasan baru yang akan dituju oleh organisasi ke depannya. Terbentuknya intensi belajar dari pengalaman kolektif. Kemauan berinvestasi demi pengembangan individu dan organisasi. Berpikir ide baru atau berbeda butuh suatu dorongan kuat agar orang bersedia melangkah mencapai zona belajarnya. Dalam Appreciative Inquiry, tahap ini disebut tahap dream yaitu sekelompok orang memvisualisasikan keadaan terbaik yang diinginkan multipihak di masa yang akan datang. Setiap orang ditantang bertindak "seolah-olah" perubahan telah terjadi disini dan saat ini. Bukan sekedar upaya perbaikan dan korektif semata.
Sementara, transition membangun rasa aman dan nyaman bagi setiap pihak untuk melakukan perubahan. Setiap orang yakin dengan asetnya untuk mewujudkan keadaan yang diidealkan. Langkah mendesain proses transisi diawali dengan perumusan prinsip panduan dalam bertindak dan menjalankan sistem, membangun mekanisme umpan balik atas setiap keberhasilan, dukungan penuh atas tindakan eksperimentasi dan promosi atas inisiatif perubahan.
Kerangka pandang diatas memperjelas bahwa tagline "Change and Continuity" membawa spirit akan perubahan yang berkelanjutan. Spirit yang menjanjikan adanya keadaan yang lebih baik di masa mendatang. Spirit yang dapat menghapuskan sinisme "ganti menteri ganti kebijakan" maupun kekhawatiran akan menteri yang bermain aman.
Pertanyaannya adalah seberapa banyak dan seberapa dalam para menteri memahami tagline kabinet mereka sendiri. Secara cepat, kita bersama dapat menilai pemahaman para menteri itu dari target-target yang ditetapkan dalam program 100 hari setiap menteri. Apakah target program 100 hari menyatakan telah terjadinya proses continuity? Apakah ada kejelasan kebijakan dan program yang akan dilanjutkan? Apakah target program 100 hari menyuratkan visi baru yang menjadi pengarah gerak departemen? Kalau target 100 hari sudah ada menteri yang ambisius menetapkan target hasil konkret maka kita patut mempertanyakan kapasitas menteri tersebut sebagai pengelola perubahan yang efektif.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment