Monday, November 2, 2009

Lupakan Menang-Kalah

Beberapa hari terakhir, damai anakku punya kebiasaan baru. Kalau main ke rumah temanya, yang namanya vita, mesti pulang sambil mewek, nangis gitu. Ada saja penyebabnya. Terakhir, soal kalah menang. Damai dan vita berdebat soal siapa menang, siapa kalah. Damai gak terima dibilang kalah sama vita. Begitu deh.

Malamnya ngobrol sama mamanya damai. Ujung-ujungnya kami merasa bersalah juga. Kenapa? Karena kalau aku main sama damai, pasti skenarionya damai menang. Betul sih. Memupuk kepercayaan diri. Kesiapan jadi pemenang.Tapi pengalaman dengan vita, membuatku sadar bahwa belajar menerima kekalahan sama berharganya.
Pas beberapa waktu sebelumnya. Ibunya damai bercerita tentang tingkah pola para orang tua bersiasat ketika anaknya "tidak menang" dalam sebuah lomba. Ketika logika menang-kalah dipakai, maka anak ataupun kita tidak lagi menikmati suatu aktivitas. Kita lebih sibuk berpikir tentang bagaimana caranya mendapatkan "piala" sebagai tanda kemenangan atau tidak kalah. Bahkan sampai pada taraf kalah menang kita harus dapat piala. Motivasinya eksternal. Motivasi internal menjadi tumpul. Kita melakukan sesuatu dengan motif "to have". Hilanglah kenikmatan hidup. Hilanglah kebebasan hidup.
Menerima kekalahan itu penting.Lebih penting lagi, belajar melepaskan diri dari perangkap logika menang vs kalah. Logika yang kronis dalam membunuh kemanusiaan kita. Membuat kita jadi mahluk reaktif. Bahkan efek negatif dari logika kalah menang ternyata sampai juga dalam urusan pengembangan organisasi.
Ambil contoh paling dekat. Aku itu dosen di MPPO (hehe promosi) Fakultas Psikologi Unair. Fakultas psikologi yang relatif muda. Dalam konteks kompetisi, banyak orang menggunakan standar usia fakultas. Jadi kalau pakai standar ini, fakultas psikologi unair itu termasuk muda, kalah jauh dibandingkan dengan UI, UGM atau Unpad. Penggunaan standar ini membuat aku (minimal aku deh), merasa minder, merasa kalah tua, kalah pengalaman, kalah maju. Rasa minder yang membuatku berusaha keras untuk mengimitasi capaian dari para sesepuh, mengikuti jejak mereka. Membandingkan diri dengan mereka. Studi banding ke mereka. Apakah memang itu kenyataanya? Bisa jadi benar. Tapi kenyataan sifatnya selalu majemuk. Ternyata ada kenyataan lain.
Sampai suatu waktu, ketika fakultasku melakukan workshop yang membahas tentang arah ke depan pendidikan. Singkat kata, kami menyepakati niai "youth culture" sebagai salah satu nilai budaya kami. "Youth culture" menyeruak dalam kesadaranku. Mengubah cara pandang dalam memandang dan menilai diri, menilai fakultasku. Mengeluarkanku dari logika menang kalah. Ini bukan urusan menang kalah. Ini bukan urusan tua menang, muda kalah. Juga bukan urusan muda menang, tua kalah. Bukan urusan menang kalah.
Sebagai Fakultas yang lebih tua, mereka bisa membanggakan diri dengan iklan-iklan yang menonjolkan banyaknya konstribusi kepada bangsa, kaya pengalaman, tenaga ahli yang telah mendominasi pemerintahan dan perusahaan. Orang boleh langsung percaya dengan iklan mereka karena track record. Tetapi jangan lupakan. Sebagai fakultas yang lebih muda, kami bisa membanggakan diri dengan iklan-iklan kami yang menonjolkan akan kesegaran ide-ide inovatif, dinamis mengarahkan perubahan, semangat muda yang meluap-luap. Orang harus percaya ke kami karena kami akan selalu menyapa orang-orang dengan wajah berbinar-binar. Siapa menang? Siapa kalah? Tidak ada. Ini hanya beda.
Nilai "youth culture" menghapus minderku. Ternyata segala sesuatu bisa tampil dengan keunikanya. Tanpa harus terjebak menang-kalah.
Eh belum selesai. Beberapa waktu ini, aku dipercaya sebuah perusahaan muda penuh potensi, penuh semangat. Sejak awal pendirian, perusahaan ini telah mengalami berbagai tantangan dalam suasana kekeluargaan, suasana kedekatan emosi antar orang. Tapi sebagaimana normalnya, ada yang mempunyai pandangan perusahaan muda harus mencontoh perusahaan yang lebih tua. Perusahaan kecil harus mencontoh perusahaan besar. Ada kecenderungan memiliki tata aturan yang rasional, obyektif dan terukur. Ada kecenderungan memiliki pabrik besar sebagaimana perusahaan besar. Masuklah dalam logika menang kalah. Masuklah dalam tipuan kamera, kehilangan penglihatan atas kekuatan unik yang dimiliki. Kekuatan yang membuat perusahaan itu lahir dan berkembang.
Padahal kita saat tengah memasuki dunia yang telah berubah. The world is flat. Dunia yang datar. Dunia tidak lagi bulat. Dunia bulat yang menghalangi para pemain bisnis melihat satu sama lain. Dalam dunia yang datar, para pemain bisnis langsung berhadapan, saling menyapa dan berinteraksi. Konteks berubah membutuhkan pemain bisnis yang berbeda. Setelah Thomas Friedman meluncurkan buku The World is Flat, meluncurlah buku Competing in a Flat World. Buku yang menceritakan kisah Li Fung (http://www.lifung.com/eng/global/home.php), sebuah perusahaan yang sama sekali tidak memiliki pabrik tetapi menjadi perusahaan besar. Besar dengan cara berbeda. Tidak terpatok pada perusahaan lain.
Nah tantangan bagi praktisi perubahan dan pengembangan organisasi adalah bagaimana menemukan kekuatan unik dan mengembangkanya untuk menghasilkan konstribusi terhadap kemajuan kesejahteraan kemanusiaan? Lupakan menang kalah

No comments:

Post a Comment