Tuesday, June 26, 2007

Berpikir Sirkuler

Bagian satu
Dahulu kala, aku sempat sekilas tertarik membaca buku fifth disicplinenya peter senge di ruangnya pak seger, buku berwarna hitam kumal….tetapi kuabaikan. Dahulu kala, sempat diberitahu pak ino tentang berpikir sistem…kudengarkan tapi kuabaikan. Sampai suatu hari kemudian aku mengikuti vibrant training dimana dimainkan system thingking games. Games yang membuat lompatan kesadaran bahwa kerumitan-kerumitan berpikir sistem ternyata bisa diterjemahkan secara sederhana, sesuatu yang kemudian kusadari merupakan khas mas dani.

Lompatan kesadaran ini memicu semangatku untuk belajar. Mulailah eksperimentasi beberapa improvisasi system thinking games, pada pada sesi training maupun di ruang-ruang kuliah. Menghayati benar setiap lekuk tubuh games tersebut. Merasakan kelezatan setiap potong games itu.
Yang menarik, dua hari yang lalu. Ketika aku ngajar kuliah psikodiagnostik 2:observasi…materinya observasi pada setting industri dan organisasi. Otakku tiba-tiba menjadi liar. ehm bagaimana kalau mahasiswa kuajak dolan ke fakultas tetangga, farmasi. Aku minta mereka mengamati ruang kerja karyawan dengan membayangkan mereka tengah membawa tustel dan asyik memotret setiap bagian ruang tersebut. karena nanti foto hasil karya mereka akan dibahas dikelas. Mereka berkeliaran disana sambil dipandangi dengan cara yang aneh oleh para penghuninya…untungnya mahasiswa termasuk kalangan para cuekers…jadi santai aja…
Setelah beberapa lama, maka aku mengajak muka-muka puas untuk berkunjung ke kandang sendiri, ruang kerja karyawan fakultas psikologi. singkat aja. 5 menit. Tujuannya lebih untuk memunculkan ingatan mereka. Setelah itu semua kembali ke kelas (bukan laptop….). Aku meminta mahasiswa membentuk kelompok 4 orang. Aku mainkan world cafe conversation untuk mendorong terjadinya pengayaan dalam proses belajar (biasanya kalau pakem pada satu kelompok,terjadi groupthink, berpikir linear). Awalnya kuminta mereka mensharingkan “foto” hasil jepretan mereka.
Nah selama mereka sharing, aku menuliskan serangkaian pertanyaan di komputer kelas. 1. Apa ciri ruang kerja karyawan fakultas farmasi? 2. Bagaimana ciri ruang kerja karyawan itu berdampak pada interaksi antar karyawan, interaksi karyawan dengan dosen dan mahasiswa? 3. Secara umum, bagaimana pola interaksi karyawan fakultas farmasi? 4. Bagaimana pola interaksi berdampak pada koordinasi, kebersamaan dan konflik di kalangan karyawan?
Aku ajukan pertanyaan itu satu per satu ke mahasiswa. Aku meminta setiap 2 orang anggota kelompok berpindah pada kelompok lainnya mengikuti arah jarum jam. Suasananya sungguh menarik karena setiap mahasiswa pengen tahu apa yang dihasilkan oleh kawannya. Percakapanpun semakin ramai…yah mirip-mirip orang cangkruk (kongkow gitulah…) di warung kopi di pinggir trotoar jalan sekitar kampus. walah…apa seh….
Dan pertanyaan terakhir. 5. Imajinasikan. Fakultas Farmasi melakukan perancangan ulang ruang kerja karyawannya. Bagaimana situasi koordinasi, kebersamaan dan konflik di kalangan karyawan berpengaruh pada perancangan ulang ruang kerja karyawan dan pembagian ruang diantara mereka? Nah pada titik ini, muncul berbagai reaksi yang pada umumnya kebingungan. Satu dua mahasiswa bertanya, “Apakah kami diminta untuk menjelaskan apa yang membuat fakultas farmasi merancang ruangan yang seperti sekarang ini?” Sebuah pertanyaan setback (bener ya…mbohlah), pertanyaan yang menengok ke belakang….mencari penyebab di masa lalu atas situasi kekinian. Setelah eksplorasi, aku tahu pertanyaan itu muncul karena mereka shock, tidak membayangkan bahwa bentuk ruang akan berpengaruh pada bentuk ruang kembali.
Pada titik ini, aku memberikan penjelasan singkat mengenai berpikir sirkuler dengan menggambarkan sebuah lingkaran sebab akibat 4 elemen yang ditanyakan. Singkatnya, a menyebabkan b, b menyebabkan c, c menyebabkan d, d menyebabkan a. Lalu aku tanyakan, mana yang menjadi penyebab? mana yang menjadi akibat?
Pada akhir sesi, aku menceritakan sebuah cerita yang kuingat dari fifth dicipline workbook tentang kunjungan seorang manajer dan konsultan. Dimana, urusan oli tercecer merupakan dampak dari kebijakan direksi yang ditetapkan setahun yang lalu. Pada buku itu, disarankan untuk melacak rantasi sebab-akibat sejauh mungkin, dengan menggunakan 5 pertanyaan why, dengan mengabaikan sejenak trait/karakteristik personal sebagai suatu penyebab.
Apa manfaat berpikir sirkuler bagi kita?
Entahlah…


Bagian dua
Salam damai,
Di milis psikologi, percikanku tentang berpikir sirkuler mendapat tanggapan dari beberapa kawan. Jadi menarik diskusinya…aku ikutan nimbrung lagi ah…dan jadilah percikan ini.
Dalam metode penelitian kuantitatif (dan kebanyakan cara pikir orang modern, kayak kita-kita kali ya..) cenderung menggunakan berpikir linear, seperti jika a maka b. Relasi antara dua hal (biasa disebut variabel) dapat dipotret sebagai sebuah hubungan langsung antara keduanya. Dengan asumsi ini, maka sangat mudah menentukan penyebab dari sesuatu. Semisal, budi (nama sebenarnya kok hehehe) tidak naik kelas karena dia nakal di kelas (emang gitu…). Selesai urusan. Kebanyakan dari kita akan berdamai dengan penjelasan, nah itu buah dari kenakalannya.
Di perusahaan. Ketika turn over karyawan tinggi. Ketika tingkat penjualan drop. Ketika kepuasan karyawan turun. Seberapa jauh kita menyelusuri rantai sebab akibat? Bagaimana kita peka terhadap relasi antar subsistem dalam perusahaan yang memicu hal tersebut?
Dalam berpikir sirkuler, kita harus terus melakukan penggalian relasi sebab-akibat dalam sebuah sistem (ingat senge berbicara tentang sistem). Simpelnya, jika a maka b, jika b maka c, jika c maka d, jika d maka a. Semisal, budi tidak naik kelas karena nakal, budi nakal karena…bla..bla Sehingga, kita bisa melihat relasi keseluruhan elemen dalam sebuah sistem (sistem sekolah, sistem keluarga dan yang lainnya) secara menyeluruh.
Di dalam kelas saya paling suka mencontohkan bagaimana relasi antara dosen dan mahasiswa yang saling membantu dalam keburukan. Mahasiswa X (ini baru bukan nama sebenarnyanya) bertanya pada seniornya tentang sebuah kuliah yang akan diambilnya, semisal kuliah PIO. Ia mempunyai image tertentu, semisal kelasnya membosankan. Image ini bahwa sudah bekerja ketika mahasiswa bangun tidur pada hari kuliah PIO, ia sudah merasa rasa-rasen (males-malesan). Ia datang ke kelas mepet waktunya, bahkan terlambat. Ia sudah mempersiapkan membawa segala peralatan agar tidak merasa bosan. Di dalam kelas pun, ia sudah menunjukkan sikap pasif. Di sisi lain, dosen masuk melihat mahasiswanya bersikap pasif. Dosen berusaha untuk memancing inisiatif tapi hasilnya nihil, malah kalah melakukan tindakan yang aneh-aneh. Dosen pun mempunyai image mahasiswa x itu kalau dikelas pasif dan aneh.
Lalu sang dosen berkumpul di ruang dosen ngobrol ngrasani mahasiswa x. “wah mahasiswa x itu kalau di kelas pasif dan aneh…bla…bla…bikin mangkel…” Nah sudah, virus image negatif dah nyebar ke dosen-dosen yang lain. Dosen yang lain ketika ngajar mahasiswa x pun berpegang pada image negatif tersebut. Memperlakukan mahasiswa x sebagai orang yang pasif dan aneh. Mahasiswa x yang mulanya bersemangat, menjadi down karena tidak pernah diperhatikan, dicuekin dan mungkin juga dipermalukan. Nah mahasiswa x punya image negatif terhadap sang dosen. Ketika kumpul di kantin ngobrol dengan mahasiswa yang lain, ngerasani dosennya. “wah kalau dosen itu payah…ngajarnya gak enak bla.bla..” dan selanjutnya….menjadi sebuah spiral, lingkaran setan.Kalau begini, mana yang sebab mana yang akibat?
Di perusahaan. Saya kembali ke cerita tentang oli tercecer. Waktu itu seorang manajer od mengajak seorang konsultan mengunjungi pabriknya. Ketika berkunjung, mereka menjumpai oli tercecer. Sang manajer langsung memanggil seorang karyawan dan berniat untuk menyuruh membersihkan ceceran oli itu.Tapi sang konsultan mencegahnya, “tanyakan apa yang membuat oli itu tercecer?”. Sang manajer mengajukan pertanyaan itu kepada sang karyawan. “Olinya berasal dari mesin itu Pak”, jawab sang karyawan.Sambil manggut-manggut sang manajer mendengarkan dan kemudian akan menyuruh. Tapi sang konsultan mencegahnya, “tanyakan kenapa mesin itu mengeluarkan oli?. Sang manajer menanyakan dan mendapatkan jawaban, ” karena saringannya bocor pak”. Sambil manggut-manggut puas, manajer mendengar lalu menyuruh. Tapi sang konsultan mencegahnya, “tanyakan kenapa saringannya bocor?”. Sang manajer bertanya. Sang karyawan menjawab, “Kualitas saringannya buruk, lebih buruk dari yang dulu”. Dan terulang kembali. Sang konsultan berbisik, “kenapa kualitas saringannya buruk?”. Dan jawabannya, “waduh pak…saya kurang tahu..bukan bagian saya”. Kemudian, sang karyawan membersihkan ceceran oli. Manajer dan konsultan kembali ke kantor. Manajer kemudian bertanya kepada manajer pengadaan, “apa yang membuat perusahaan kita membeli saringan dengan kualitas buruk?”. Dan tahukah apa jawabannya? “Setahun yang lalu direksi kan menetapkan kebijakan efisiensi. Sehingga, kami harus mencari barang yang lebih murah, dan kualitasnya pun tidak sebaik dulu,” ujar manajer pengadaan.
Wah panjang juga ya perjalanan ceceran oli itu. Ceceran oli bermula dari sebuah kebijakan setahun yang lalu. Bagaimana dengan perusahaan kita? Tekun menyelusuri relasi sebab akibat? Atau menyalahkan karyawan/operator? Sepertinya lebih mudah menyalahkan karyawan deh…..
Lalu, apa manfaatnya berpikir sirkuler?


Catatan
Berpikir sirkuler lebih dikenal sebagai system thinking (penjelasan ringan renyah bisa dibaca di http://budihartono.wordpress.com/


Bagian tiga
Kemarin saya memfasilitasi appreciative teamwork dengan waktu yang sangat padat, hanya sehari itupun dapat discount disana-sini. Diawali dengan es seger menggunakan kartu analog ai (bagi angkatan 9 training of vibrant facilitation, ini merupakan tampilan beda dari kartu tarot modifikasi yg digunakan mas dani), lalu mengikuti alur discovery dan dream. Dimainkan soundtrack pelatihan, kau dan akunya nidji…diawali dengan video clip by keynote karya andri firdaus….dalam waktu 3 menit 47 detik peserta menyaksikan rangkaian 77 gambar bertemakan kau dan aku….mulai gambar anak2, org dewasa sampai gambar hewan…abis itu si andri firdaus mengajak peserta bernyanyi dengan gaya nidji abis…lengkap dengan syal yang sudah kami siapkan…(sayang kami gagal dapat wig ala nidji…)
Seharusnya, setelah tahap dream masuk ke tahap design, tetapi apa daya waktu tidak mau diajak kompromi. Satu jam terakhir saya gunakan untuk system thinking games, sebagaimana yang pernah dipakai mas dani di angkatan 9. Saya sendiri sudah menyiapkan khusus, baik landasan teoritis (jadi harus baca bukunya peter senge, yang terjemahannya menuntut daya imajinasi yang tinggi) maupun terobosan praktisnya.
Yang dulu saya pelajari dari mas dani, Peserta diminta memilih dua orang sahabat, lalu peserta membentuk segitiga sama sisi tanpa komunikasi. yang menarik kemudian peserta kemudian membentuk segitiga kecil2 yang terlepas satu sama lain….saya sempat terperanjat juga….walah kok jadi gini ya..?? (maklum ini yg pertama…)…saya mulai ajukan pertanyaan ke peserta…dan apa yang terjadi….mereka mengaku…awalnya sudah memilih 2 sahabat…tetapi ketika menghadapi kesulitan mereka langsung ganti sahabat….tapi ada pula yang mengatakan “instruksinya tidak jelas”….saya coba kaitkan dengan karakter tim yang ESTJ (sebelumnya sudah sempat saya jelaskan) yang orientasinya praktis dan butuh instruksi yang detil, dan bahkan contoh konkrit. Sudah mulai deh banyak yang senyum2 geli….
Atas usulan bbrp peserta, permainan direstart….pembentukan segitiga mulai terlihat prosesnya, walau proses iteratif tidak muncul secara jelas….terbentuk kemudian dua kelompok, satu jaringan besar segitiga dan satu segitiga yang terpisah….nah disini mulai saya mainkan langkah terobosan….3 set kartu dengan bentuk yang
berbeda….setiap set dibagikan kepada 3 orang dengan instruksi, ambil satu, berikan sisanya kepada sahabat
anda…
Nah dengan kartu itu kemudian terlihat jelas distribusi informasi. satu segitiga kecil dengan sendirinya mempunyai suatu lingkaran informasi yang tertutup, mendistribusikan informasi untuk kelompok mereka sendiri. Sementara yang kelompok besar, ternyata terdiri dari dua kelompok dengan titik singgung hanya pada satu orang…..jadi dua set kartu sempat beberapa kali membentuk lingkaran sirkuler….yang terus berputar sampai seluruh anggotanya mendapatkan kartu…
Baru deh, inquiry tentang dampak distribusi informasi yang seperti itu terhadap kohesivitas kelompok, cara pandang dan pengambilan keputusan kelompok… Dan begitulah, peserta kemudian menyadari realitas yang selama beberapa sesi sebelumnya tidak terlalu nampak.

No comments:

Post a Comment