Sunday, March 8, 2009

Magno Inspiration: How to Designing Indonesia Impian?

Hari ini, aku membaca Kompas (Minggu, 8/03/09). Seperti biasa, edisi minggu banyak artikel-artikel yang menyegarkan. Tetapi tidak seperti biasa, hari ini ada sebuah artikel yang sungguh menggugah. Apa? Judulnya dari Kandangan Menuju London. Bercerita mengenai Magno, perjalanannya dari Temanggung (sepertinya dulu pernah lewat sekali hehe) hingga London (kalau ini masih diangan-angan).
Foto ilustrasinya akan memancing orang berkomentar, loh itu kan radio jadul. Tapi mataku gak semudah itu tertipu. Radio ini sangat kuat desainya. Ada kontras, ada kemewahan yang sederhana, ada kesan antik yang dipadu dengan fungsional masa kini, nuansa alami masa lalu berbaur nuansa futuristik. Benar-benar pas. Tidak lebih. Tidak kurang. Itulah kesanku dalam melihat. Pantas saja kalau berbagai penghargaan internasional didapatkan, sebuah pengakuan dunia atas keindahan Magno. (seperti apa sih cantiknya radio Magno? Buka aja di http://magno-design.com)



magno
Menukik mengalami perjalanan kisah sang desainer, Singgih Susilo Kartono, mulutku gak bisa nahan untuk bilang “WoW!”. Manusia Ajaib Indonesia. Apa yang dilakukannya adalah sebuah blueprint bagaimana Indonesia Impian dapat terwujud. Jalan yang akan memperindah Indonesia, mendesain Indonesia menjadi apa yang dicita-citakan bersama. Sebuah tawaran jalan hidup yang beda.

Dan langsung saja, intuisiku memintaku melakukan upaya untuk mendekatkan diri dengan Singgih. Persis sebagaimana intuisiku memintaku berkenalan dengan orang-orang hebat dalam hidupku. Apa? Langsung melakukan pencarian di Facebook. Dan benar adanya. Beliaunya punya FB. Hahahaha senangnya. Lakukan permintaan sebagai teman. Sambil berharap permintaan disetujui. Hahahaha tak perlu menanti lama. Masuk pemberitahuan di my bb. Diterima sebagai teman. Langsung melihat profilya, melihat foto-foto dan menyapa beliau. Hehehe dibalas. Norak ya….biarin deh. Dampak Magno memang hebat. Akhirnya, aku menulis lagi setelah lebih dari 6 bulan berhenti.
Kembali ke artikel itu ya…….
“Indonesia dikenal dengan hutan tropisnya. Harus ada produk kayu dari Indonesia yang menjadi ikon dunia”. Wuih baca ini rasanya…….merinding. Bisa ya? Dalam satu kalimat itu saja, kerasa banget apresiasi terhadap apa yang ada dipadu dengan impian masa depan. Ada penemuan atas yang berharga dari bangsa ini, sekaligus cita-cita yang mendunia. Discovery berpadu Dream dengan manis.
Pasti ada banyak komentar sinis. “Hei…hutan tropis yang mana? Yang sudah habis terkena ilegal logging?” Atau, “hutan tropis kan warisan nenek moyang dari dulu. Apa yang dibanggakan?”. Atau, “ngomong-ngomong soal hutan tropis? Wah itu masalah besar bangsa ini!”. Sinis juga bisa berasal dari arah yang berbeda. “Icon dunia? Mimpi kali ye?” “Icon dunia di tengah negeri para pembajak”. Orang boleh ngomong apa.
Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa, “Tampaknya usaha saya mulai berhasil. Kalau mencari wooden radio di internet, Magno keluar di urutan pertama”. Magno sebagaimana asal katanya magnifying glass, akhirnya mewujudkan harapan kreatornya. “….memperkenalkan kehidupan desa dan memperlihatkan jiwa produk saya”.
Lebih dari Magno, Singgih telah menunjukkan dan memerankan sebuah jalan hidup alternatif. Jalan hidup sebagai desainer. Jalan hidup desainer bukanlah tata langkah yang harus dilakukan langkah demi langkah. Jalan ini bukan sebuah peta penunjuk jalan. Bukan pula mengenai keterampilan teknis seorang desainer yang dapat dipelajari di bangku kuliah. Bukan pula sekumpulan rumus-rumus menghitung dimensi produk. Jalan desainer adalah alternatif paradigma atau cara pandang dalam menjalani kehidupan. Sebuah spirit yang didapatkan dari laku. Bagaimana itu?
Menemukan apa yang berharga. Radio Magno terbuat dari kayu sonokeling dan pinus. Bahan-bahan berharga yang mudah didapatkan di bumi Indonesia. Membayangkan apa yang ingin dicapai. Ada idealisme yang terang dalam radio Magno. Ikon dunia. Ia membaca trend terbaru, bukan untuk meniru tetapi untuk melampui. Mendesain, memberi bentuk pada nilai dan impian. Bahan kayu yang dipadu impian menjadi ikon dunia. Jadilah radio Magno. Walau kayu tetapi dapat dihubungan dengan iPod atau MP3 player lain.
So, jalan hidup desainer adalah mendesain impian menjadi nyata dengan menggunakan bahan berharga yang tersedia di sekitar kita. Bayangkan, bagaimana kalau kita berperan sebagai desainer kehidupan kita? Desainer keluarga kita. Desainer organisasi kita. Desainer Indonesia kita. Apa yang akan kita desain? Akan kita desain seperti apa?
Mungkinkah? Dalam kehidupan, kita pada dasarnya telah menjadi seorang desainer pada beragam tingkatan. Coba lihat sekitar kita. Hampir seluruhnya hasil desain manusia, hasil desain kita. Kita mendesain kehidupan kita, kemudian kehidupan kita mendesain diri kita. Kita semua merupakan desainer dunia kita sendiri sekaligus merupakan produk dari desain kita tersebut.
Jika mungkin, kenapa kebanyakan dari kita tidak memilih jalan hidup desainer? Berabad yang lalu, ketika kita memasuki jaman industri mulailah otak kiri lebih memainkan peranan dalam kehidupan. Mode berpikir analitis menjadi dominan. Kita asyik berpikir secara parsial. Kita asyik mencari persoalan di sekitar kita. Sampai-sampai tanpa disadari terbangun anggapan bahwa kehidupan adalah persoalan yang harus diselesaikan.
Dalam kehidupan organisasi, semakin kentara pola kehidupan semacam itu. Manajer lebih bertindak sebagai pemadam kebakaran, penyelesai persoalan. Memutuskan sebuah pilihan dari serangkaian alternatif yang tersedia. Kita lebih sering menggunakan pilihan kata “atau” seperti ikuti aturan atau keluar dari perusahaan, daripada menggunakan “dan”. Terasa lebih praktis memilih jalan yang mendahulukan sebuah harapan dan mengorbankan harapan yang lain. Menentukan sebuah pilihan dan mengorbankan pilihan yang lain.
Dalam konteks organisasi, Avital, M. & Boland, R.J. (2008) memperkenalkan “managing as designing”, mengelola sebagai desainer. Tantangan untuk mendesain sebuah organisasi yang mengartikulasikan seluruh harapan. Tantangan untuk menemukan dan menggunakan apa yang berharga untuk mewujudkan seluruh harapan. Apa mungkin? Sangat tidak mungkin apabila kita masih terpaku pada bentuk-bentuk lama. Sikap managing as designing menantang kita untuk selalu berinovasi, menemukan bentuk-bentuk baru seiring dengan perubahan bahan yang tersedia, sejalan dengan harapan yang terus berkembang.
Dalam konteks indonesia, bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin sebagai problem solver, penyelesaian persoalan. Selain karena bertumpuknya persoalan, solusi yang berasal dari cara berpikir problem solving, tidak pernah beranjak jauh dari problem yang coba diatasi. Bukan melekat pada harapan yang ingin diwujudkan.
Indonesia butuh pemimpin yang bermental desainer. Pemimpin yang mendesain solusi-solusi yang mengoptimalkan apa yang berharga untuk mewujudkan seluruh harapan. Pemimpin yang bersungguh-sungguh berniat dan bertindak untuk mendesain Indonesia Impian, Indonesia harapan kita bersama.
Mari tantang diri kita untuk menjadi desainer kehidupan kita, Indonesia kita!

No comments:

Post a Comment