Thursday, March 26, 2009

Menciptakan Budaya Organisasi (My Way Culture)

 
For what is a man? What has he got?

If not himself - Then he has naught.
To say the things he truly feels
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows
And did it my way.
(My Way - Frank Sinatra)
Pernah mendengar IBM Way, Toyota Values, Apple Culture atau yang lain? Kita harus mengacungi jempol pada mereka yang telah berhasil memantapkan inti budaya organisasi. Penulis sendiri takjub dengan mantra-mantra mereka. Kok bisa ya?
Kita kemudian berlomba-lomba mempelajari bagaimana perusahaan-perusahaan itu menciptakan mantra nmereka. Lebih gila lagi, kita mempelajari budaya organisasi tersebut agar bisa melakukan imitasi. Ketika kondisinya sama, imitasi akan berdampak luar biasa. Nah ketika beda….menjadi pertanyaan menarik, apa yang akan terjadi?
Proses download pengetahuan yang dilanjutkan dengan imitasi itu seperti kita memperkosa organisasi kita. Seperti menanam bunga bougenville di tanah basah atau menanam melati air di padang pasir. Kalaupun organisasi kita tetap tumbuh, pertumbuhannya pun jadi menyimpang.




***
Pernah dengan “My Way”-nya Frank Sinatra kan? Lagu yang sangat menggugah! (Bagi yang belum dengar, bisa lihat liriknya di sini atau kalau mau download klik disini).
Setiap organisasi melalui hari demi hari dengan banyak aktivitas. Banyak cara telah digunakan oleh organisasi untuk mencapai tujuan. Mulai dengan berjalan normal. Merangkak. Sampai jungkir balik pun dilakukan. Sebagian gagal. Tetapi hanya sedikit energi yang kita curahkan terhadap kegagalan itu, agar kita tetap bisa berjalan terus dengan cara kita yang berhasil.
Percayalah. Organisasi kita memang telah menyusun perencanaan yang detil. Namun, keberhasilan yang dibanggakan berasal dari improvisasi saat rencana tidak berjalan seperti adanya. Improvisasi yang berasal dari kematangan kita sebagai pelakunya.
Ada momen tertentu, organisasi kita menentukan target yang melampui kapasitas. Namun, komitmen pada organisasi membuat kita mengerahkan seluruh daya upaya yang bersumber dari kekuatan-kekuatan unik kita. Kebersamaan membuat kita bertahan dalam ketegaran mengatasi kesulitan demi kesulitan.
Keringat telah mengalir. Air mata telah pecah. Dan perjalanan berdarah-darah telah kita lalui. Namun, semua itu menjadi kenangan indah. Kenangan yang memicu rasa bangga. Memicu kegelian terdalam.
Percayalah itu semua, ketika kita menempuh jalan kita sendiri, “My Way”.
***
IBM Way, Toyota Value, Apple Way dan yang lainnya, memberi pelajaran berharga mengenai vitalnya budaya organisasi dalam memastikan keunggulan organisasi. Terkadang pelajaran berharga ini membuat kita silau dan berusaha menggunakan cara sukses orang atau organisasi lain.
Bagaimana budaya organisasi dirumuskan? Kita bentuk tim budaya, lakukan asesmen budaya, lalu membuat rumusan value dan slogan baru. Lalu, serangkaian poster-pamflet-spanduk-buku kita susun dan sebarluaskan. Tak jarang, kita undang pakar atau motivator handal untuk berbicara di depan karyawan kita tentang budaya baru dan perubahan. Awalnya semua nampak senang sampai kemudian memasuki implementasi budaya baru dalam perilaku kerja dan proses bisnis, semua menjadi ragu dan terjadilah resistensi.
Adanya resistensi menunjukkan proses pembentukan budaya yang kita susun tidak berdasar pada praktek-praktek keseharian dalam organisasi kita. Tidak berpijak pada bumi. Tidak menjunjung langit.
Apakah bisa merumuskan budaya organisasi dari praktek keseharian kita, Terlebih lagi kalau keadaan dan kinerja organisasi tengah menurun? Dalam keadaan seburuk apapun, selalu ada faktor yang membuat organisasi kita bertahan hidup. Apa yang membuat karyawan kita tetap bertahan bekerja di perusahaan kita? Apa yang membuat karyawan kita tetap menjalankan pekerjaan? Apa yang membuat pelanggan kita tetap setia pada perusahaan kita?
Gimana cara menyusun budaya sebagai “My Way”?

  1. Lakukan dialog dengan karyawan kita mengenai kejadian-kejadian terbaik yang pernah dialami oleh karyawan perusahaan kita (pada semua level). Kejadian terbaik adalah kejadian dimana tercapai keberhasilan, adanya passion-antusiasme, adanya kepercayaan diri, dan memicu lahirnya keinginan untuk mengembangkan diri. Dialog ini menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry
  2. Susun dan sosialisasikan narasi atau cerita mengenai kejadian-kejadian terbaik.
  3. Mintalah karyawan untuk memberikan umpan balik terhadap cerita kejadian terbaik itu
  4. Undang karyawan kita melakukan dialog untuk mengidentifikasi faktor yang memberi kehidupan terhadap organisasi, mengimajinasikan keadaan masa depan organisasi, serta, merumuskan pernyataan value dan slogan.
  5. Undang partisipasi karyawan untuk menyusun pola perilaku dan proses bisnis di unit masing-masing yang selaras dengan budaya baru
  6. Lakukan forum dialog dan valuation untuk sharing dan apresiasi terhadap setiap keberhasilan.

Dengan komitmen penuh dari BOD, penciptaan budaya baru telah dapat dilihat dalam waktu 6 bulan sejak langkah awal dilakukan. Setelah itu, kita telah bersenandung irama “My Way”…..sebagaimana IBM, Toyota, Apple menyenandungkan “My Way”-nya.

No comments:

Post a Comment