“The problem is never how to get new, innovative thoughts into your mind, but how to get the old ones out”.
Dee Hock (founder and former CEO of the VISA)
Taruhan! Apa yang anda ingat tentang belajar ketika dibangku sekolah dulu (atau sekarang)? Saya sendiri yang teringat…belajar itu menghafalkan….iyalah memahami….tapi menghafalkan juga kan?….eh Dee Hock malah bilang belajar itu proses melupakan.....apa maksudnya?
Saya terprovokasi oleh sebuah tulisan di blognya mas dani (learn unleraning) dan kemudian saya baca kembali di presentasinya tom peters (forget and learning). Sangat terprovokasi…..dan akhirnya dapat juga. Ada beberapa kejadian menarik yang saya alami. Pertama, tentang praktek membuat susu Damai. Kedua, tentang perubahan perilaku berlalulintas di kampus. Bahwa ternyata yang paling sulit dari belajar, bukanlah menerima ide baru atau melakukan perilaku baru….yang paling sangat sulit adalah melupakan ide lama atau perilaku lama. Begini contohnya…
Pertama, setelah sekian lama saya baru sadar bahwa cara saya dan neneknya damai dalam membuat susu botol ternyata berbeda. Tidak beda jauh sih tapi dampaknya sangat beda. Kalau saya membuat susu damai, susu saya masukkan dalam botol menyusul kemudian air panas dan air dingin. Akibatnya, saya sering kesal susu nempel di bagian bawah botol. Sudah gitu, mana diledekin sama neneknya damai. Pada suatu hari, diam-diam saya amati neneknya damai membuat susu. Oalah…ternyata simpel, sangat simpel. Beliaunya menuang air panas dulu, menyusul susu dan air dingin. Perhatikan bagaimana simpel perbedaannya. Tapi dengan cara beliau. Susu tidak pernah nempel di bagian bawah botol.
Sudah tahu nih caranya. Gampang. Begitu saja kok. Begitu pikir saya. Kenyataannya. Sesaat setelah tahu jurus baru, saya membuat susu. Ketika memutar tutupnya…WAH…..kok masih nempel ya susunya. Saya ingat-ingat lagi. OOO pantes lha wong cara lama masih saya pakai. Paham..paham. Bikin susu lagi. WAH…kok masih nempel ya susunya. Bikin susu lagi. WAH kok masih nempel. Bego banget sih. Ujar saya mengutuk diri sendiri. Begitulah. Pengalaman konyol ini saya ceritakan ke isteri saya. Karena dibahas beberapa kali. Akhirnya, ketika membuat susu saya sadar sepenuhnga dengan tata langkah yang harus saya lakukan. Dan akhirnya, saya BERHASIL membuat susu tanpa membuatnya menempel di dasar botol. Alhamdulillah…Puji tuhan…..
Dalam skala besar, saya melihat sendiri dengan mata kepala sendiri (gimana ya rasanya bisa melihat dengan mata kepala orang lain…). Ceritanya, kampus saya mendirikan sebuah gerbang megah (yang entah apa gunanya) di suatu titik. Setelah jadi, gerbang itu mejadi pintu masuk tunggal. Sementara dua jalan lama, menjadi pintu keluar. Seminggu sebelumnya sudah disosialisasikan kepada khalayak luas tentang perubahan jalur ini. Hari pertama….puluhan petugas polisi mengawal perubahan jalur itu.Banyak yang belum tahu dan melanggar. Hari kedua….banyak yang belum tahu dan melanggar. Hari ketiga….masih banyak yang melanggar. Seminggu…..jalan lama yang awalnya menjadi pintu masuk dipasangi barikade sekitar 4 – 5 meter untuk menutup pengendara yang masuk. Oalah sudah dikasih tahu kok masih pada bandel tho. Hari berikutnya, barikade menjadi tambah panjang 1 – 2 meter. Rupanya para pengendara masih banyak yang nekat juga. entahlah hari kamis depan…
Dari dua hal simpel itu. Bayangkan bagaimana tantangan para pemimpin dalam melakukan perubahan organisas?
Manusia adalah mahluk kebiasaannya. Mereka sangat nyaman dengan segala sesuatu yang biasa mereka alami. Lingkungan. Cara kerja. Cara bicara. Cara berpakaian. Bau. Suhu. Bahkan cara belajar. Mahkluk yang satu ini sensitif sekali dengan perubahan. Bahkan kehadiran orang asing, yang duduk disebelah bangku halte bis pun bisa cukup mengganggu. Apabila hadirnya sesuatu yang asing dirasa mengganggu, maka manusia tidak segan melakukan tindakan untuk mengembalikan kenyamanan ini. Bisa dengan mengusir/membuang. Bisa dirinya yang pindah. Demikian juga di dunia kerja dan organisasi. Mahluk yang satu ini tetap membawa sensivitasnya terhadap sesuatu yang asing dalam bekerja.
Nah bila manusia adalah mahluk kebiasaan, maka bagaimana melakukan perubahan? Perubahan organisasi?
Sebelumnya saya mengurai dua jenis belajar yang paling sering kita kenal. Pertama, belajar ala download. Belajar model ini banyak dipakai di bangku sekolah/kuliah. Prinsipnya, sekian banyak pengetahuan kita akses dan kita download hingga memenuhi otak pembelajar. Kehadiran pengetahuan dalam diri pembelajar ini seperti masuknya bakteri atau benda asing dalam tubuh. Secara alami, antibodi tubuh akan melakukan perjuangan sepenuh tenaga untuk mengusir penjajah asing. Akibatnya, tubuh jadi panas dan pembelajar merasa pusing. Gaya belajar ini juga banyak dianut pemimpin organisasi dalam melakukan perubahan. Ciri pentingnya: penekanan yang berlebihan pada sosialisasi. Sosialisasi sebuah aturan atau cara kerja baru. Sementara, para pelaku (karyawan yang melakukan cara kerja itu) sangat minim keterlibatannya dalam penciptaan aturan atau cara kerja tersebut.
Kedua, belajar dari pengalaman. Belajar gaya ini ditandai dengan analisis pengalaman atau apa yang terjadi di masa lalu. Mencari akar penyebab dari suatu kejadian. Prinsipnya, pengalaman masa lalu memberi pelajaran pada kita tentang apa yang baik/buruk, benar/salah, berhasil/gagal. Ulangi yang berhasil. Tinggalkan yang gagal. Gaya belajar ini banyak ditemui di sekolah-sekolah teknik dan beberapa jenis training. Fokus pada masa lalu, membuat tindakan pembelajar di masa kini dan masa depan menjadi terbatas rentangnya. Masa lalu mendikte pembelajar. Membatasi alternatif tindakan, ini atau itu. Secara singkat, menjadi kodok dalam tempurung masa lalu.
Akibat gaya belajar ini, hanya lahir perbaikan demi perbaikan. Tidak pernah perubahan nyata. Dalam konteks organisasi/bisnis, hampir seluruh perangkat menggunakan cara belajar ini (coba periksa siklus PDCA pada TQM). Selain itu, fokus pada masa lalu justru semakin membuat seluruh pihak tetap ingat pada masa lalu. Padahal sebagaimana kita bicarakan diawal, dasar dari belajar adalah melupakan masa lalu, melupakan pengetahuan yang ada.
Bagaimana agar inisiatif perubahan dapat berjalan mulus?
Pertama, kue perubahan yang legit biasanya mengandung 3 komponen yang teraduk secara rata, yaitu continuity, novelty dan transtition. Bahan kue continuity berasal dari masa lalu, seluruh pengetahuan, kebiasaan, norma, pola interaksi dan cara kerja di masa lalu yang ingin kita bawa ke masa depan. Novelty adalah racikan yang berasal dari masa depan, menggunakan imajinasi kita menyelusuri seluruh kemungkinan yang ada dan menentukan masa depan yang kita inginkan. Dan terakhir, continuity merupakan bahan yang dapat mencampurkan kedua bahan sebelumnya. Masa lalu dapat. Masa depan tercapai.
Kedua, langkah perubahan akan menarik kalau mengikuti sikuls 4D, discovery, dream, design dan destiny. Pada langkah discovery, kita melakukan dialog, menganalisis data untuk menggali continuity. Dream memberikan kita kesempatan untuk menunda (suspend) atau melupakan pengetahuan yang sudah kita ketahui dan berjalan-jalan dalam imajinasi kita. Merumuskan sebuah gambaran besar yang ingin kita ciptakan dimasa depan. Design memberi kita waktu untuk merancang sebuah jembatan yang menghubungkan antara masa lalu dengan masa depan kita. Destiny adalah waktunya beraksi, berimprovisasi dan pengembangan lebih lanjut.
Bagaimana caranya untuk suspend? Letting go, Letting come

No comments:
Post a Comment