Thursday, November 19, 2009

The Dancing Leader (7) : Mengimajinasikan Semesta


Beberapa hari terakhir, saya merasa penuh dengan beban. Berhenti. Keluar. Berhenti. Keluar. Begitulah mungkin hati saya kalau bisa berteriak. Menuntut berhenti dari segala macam urusan. Menuntut keluar dari semua persoalan. Satu persoalan datang, tanpa kenal kompromi, gelap mata persoalan lama belum terselesaikan. Saat saya mengeluh ke seorang kawan. Dia dengan seenaknya tertawa sinis, “Mau keluar? Ndak usah mimpi…lha periuk nasi kamu disitu. Mau makan apa anak isterimu?”.

Dan nasib buruk pun masih berlanjut. Persoalan tidak lagi hadir di dunia nyata. Ketika saya sadar. Persoalan itu mengendap-endap memasuki mimpi saya. Siang yang penat digenapi dengan malam yang gelisah. Sudah kerja tidak nyaman. Tidur pun tak nyenyak. Menjalani hidup saat ini susah. Membayangkan masa depan, “tau ah gelap” kata mahasiswa saya. Nasib. Nasib. Dosa apa hamba gerangan?
Suasana semacam ini acapkali membuat saya mencari “kesenangan” yang dapat segera merelakskan seluruh tubuh, menenangkan urat syaraf. Ikut rapat, langsung saja tancap gas menyebarkan gangguan yang membuat orang lain tidak nyaman. Rasanya kok jadi sedikit lega kalau melihat orang jadi kesal, lebih-lebih kalau sampai marah. “Kamu itu memang tidak tahu diri”, serang kawan saya yang bibirnya paling sering ditekuk, muka serius.
Dampak Pengetahuan
Dulu ketika kecil, saya mengangankan menjadi orang pintar. Kata orang tua, “Biar tidak ditipu sama orang”. Rajin belajar. Rajin membaca buku. Rajin mendengarkan petuah guru. Apapun selama itu membuat saya jadi lebih pintar. Rangking kelas menjadi incaran yang diperjuangkan.

Setelah tua begini baru tobat. Ternyata semakin saya tahu, semakin saya menjadi bodoh. Semakin saya tahu, semakin saya menemui banyak masalah. Semakin saya tahu, semakin saya tahu mana yang benar mana yang salah. Semakin saya sadar banyak yang tidak beres terjadi. Semakin saya tahu banyak hal yang bisa dan harus saya lakukan. Semakin saya berharap banyak hal terjadi. Semakin sering saya mengalami kegagalan. Semakin sering saya menemui kekecewaan.
Banyak pengetahuan itu ibarat anak desa yang tengah membawa air dalam timba. Semakin banyak air yang dibawa maka semakin cepat ia menyelesaikan tugasnya. Semakin banyak air maka semakin berat beban yang dipikulnya. Semakin lambat menempuh perjalanannya. Semakin banyak air yang dibawa maka semakin sering ia harus berhenti, meletakkan timba airnya.
Yap, tepat! Layaknya keadaan saya sekarang. Sempoyongan. Tapi sok kuat, masih memaksa untuk melanjutkan membawa air tersebut. Dan itulah yang saat ini membuat saya terjebak dalam begitu banyak persoalan. Sudah, sudah cukup. Sekarang, ingin berhenti. Keluar dari hidup.
Masuk wilayah tidak tahu
Saya sungguh kagum dengan orang-orang yang dengan begitu “tidak peduli” masuk ke wilayah-wilayah ketidaktahuan. Salah satunya, yang membuat terhenyak, dimuat sosoknya satu halaman di Kompas (
Minggu, 6 Januari 2007). Namanya Dynand Fariz. Idenya Jember Fashion Carnaval (JFC) telah memasuki tahun keenam. Dari Jember, Fariz berhasil menarik perhatian dunia ketika kantor berita dan media internasional menurunkan laporan mengenai JFC. Bulan Agustus lalu JFC digelar untuk yang keenam kalinya di jalan sepanjang 3,6 kilometer, diikuti 450 peserta, dan diperkirakan ditonton 150.000-an orang dari Jember dan kota-kota di sekitarnya. Keheranan demi keheranan saya ketika membaca sosoknya. Dari heran menjadi decak kagum, menjadi teriakan “WOW!”. “Hebat!”.
Apabila anda mengajukan pertanyaan kepada orang yang tahu Jember. Apa yang terbayang di benak anda tentang Jember? Sangat mungkin jawabannya. Petani. Sarungan. Santri. Agraris. Konflik Pertanahan. Atau kalau Tukul bilang “Ndeso”. Lha ini Fariz kok bisa menjadi “tidak tahu” tentang Jember. Berangan-angan Jember menjadi pusat fashion. Padahal beliaunya itu kan tulen Jember, kelahiran Jember. Kok bisa ya?
Install Image
Mungkin yang saya alami adalah krisis imajinasi. Gambar yang muncul dibenak saya melulu kelabu, suram, bahkan hitam. Ketika melihat orang yang saya kenal, muncul gambaran buruk. Ketika melihat bawahan saya, langsung muncul film keusilannya. Film ini menuntun saya bertindak hati-hati. Menghindari bila mungkin. Bicara seperlunya, apalagi memberikan saran. Karena saya jarang komunikasi. Jarang memberikan masukan. Tambah kumat usilnya. Semakin usil semakin heboh film keusilan di benak saya. Dan seterusnya. Saya gagal untuk melihat orang dengan cara yang berbeda. Gagal berimajinasi tentang orang tersebut.

Mungkin krisis imajinasi ini yang terjadi di negeri ini. Dulu pemimpin tua diganti. Harapannya ada perubahan. Setelah pemimpin muda maju. Keadaan tetap sama. Yap. Bukan urusan umur. Bukan soal tua muda. Kalau dibedah kepala pemimpin-pemimpin itu, pasti gambarnya sama. Kalau dicari gambar tentang indonesia, pasti juga sama. Gambar ini seperti rancangan bangunan seorang arsitek. Nah kalau gambar indonesianya sama. Pastilah indonesia yang dibangun juga sama.
Berharap Indonesia baru? Installah image indonesia baru pula. Indonesia Impian!
Seperti sekarang saya lagi menginstall image baru tentang kehidupan saya…..hehehe

TIPS MENGIMAJINASIKAN SEMESTA:

Bagaimana sih ilmu untuk menjadi tidak tahu? Menjadi lupa? Bagaimana kita keluar dari ketenggelaman kita dalam persoalan?
1. Sadari apa yang kita ketahui
Lho bukankah kita sadar apa yang kita ketahui? Bisakah anda ceritakan apa saja yang telah anda lakukan sampai anda membaca tulisan ini? Apakah akan anda jawab semua? Atau anda menceritakan hal-hal tertentu saja? Kebanyakan dari kita secara otomatis akan mendistorsi apa yang kita ketahui, dengan beragam tujuan.
Pada pagi hari tadi, kita keluar dari rumah menuju kantor. Jalan mana yang akan kita lalui? Biasanya langsung tanpa kita sadari melalui suatu rute tertentu. Ketika kita menghadapi atasan kita. Bagaimana sikap kita dalam menghadapinya? Biasanya langsung otomatis kita bersikap dengan cara tertentu. Dengan menyadari yang kita ketahui, kita bisa melupakan pengetahuan tersebut. Kalau kita sadar bahwa yang kita ketahui adalah atasan kita judes, lupakan! Bayangkan, sudah ada keajaiban yang mengubahnya. Dia telah menjadi orang yang berbeda. Bagaimana sikap kita?
2. Keluarlah dari kerumunan
Pernahkah ketika melakukan suatu tindakan, muncul dibenak anda, “jangan-jangan……”, “apa kata dunia?…”. Ada kecenderungan kita melakukan suatu tindakan sebagaimana biasa dilakukan oleh orang lain disekitar kita. Tidak perlu hal-hal besar. Kita pun melakukan pola yang sama untuk hal-hal kecil seperti baju yang kita kenakan, cara kita menulis, bahasa yang kita gunakan. Padahal dengan melakukan hal yang biasa, kita telah menjadi orang lain. Bukan lagi diri kita. Menjadi lupa adalah sejenak tidak peduli dengan pengharapan orang di sekitar kita. Keluarlah dari kerumunan yang menenggelamkan kita. Sesekali muncullah ke permukaan.
Kita terjebak bukan karena kita melakkan keputusan yang salah. Itu semua terjadi karena kita membuat keputusan yang benar. Kita berusaha membuat keputusan yang masuk akal berdasarkan fakta yang kita hadapi. Persoalan terbesar dari keputusan yang masuk akal adalah semua orang juga melakukannya.
3. Merasakan yang tidak terasa
Sebagaimana, melihat yang tidak terlihat. Mendengar yang tidak terdengar. Rutinitas membuat kita membuat semuanya menjadi biasa. Semakin terbiasa maka semakin indera kita tidak bekerja. Dulu ketika masuk ke instalasi pabrik, rasanya kok sangat bising dan menganggu. Sebulan dua bulan. Jadi biasa.
Sekarang sambil membaca tulisan ini. Coba aktifkan seluruh indera anda. Aktifkan mata. Lihatlah benda yang biasa tidak anda lihat. Lihatlah warna yang biasa anda lewatkan. Aktifkan telinga. Dengarkan suara yang paling lemah. Aktifkan kulit. Rasakan punggung anda. Bagaimana rasanya? Rasakan nafas anda. Bagaimana ritmenya? Bagaimana suaranya? Pilihlah benda yang tidak biasa anda lihat di ruang kerja anda. Rasakan nuansanya. Rasakan warnanya. Rasakan suara benda itu.
Sekarang cobalah yang lebih kompleks. Lihatlah bagaimana pekerjaan anda diselesaikan. Lihatlah perasaan rekan kerja, atasan atau bawahan anda yang tidak terungkapkan. Dengarkan suara kantor anda. Dengarkan pendapat bawahan anda yang tidak disampaikan. Berhenti. Rasakan hidup anda dalam sebulan terakhir. Rasakan momen terindah dalam rentang waktu itu.
4. Nikmati yang berbeda
Apabila anda suka berkunjung ke toko majalah. Pergilah ke bagian majalah yang tidak pernah anda kunjungi. Belilah 1 atau 2 majalah yang tidak pernah anda baca. Buka dan lihatlah majalah itu di tempat yang nyaman. Perhatikan isi atau desain halaman yang unik atau aneh. Carilah inspirasi yang dapat anda bawa dalam kehidupan kerja anda.
Hal yang sama juga dapat dilakukan bagi anda yang termasuk penggemar film atau usik. Intinya, nikmati jenis film atau musik yang jarang atau tidak pernah anda nikmati sebelumnya.
5. Apapun yang anda pikirkan, berpikirlah sebaliknya
Apabila anda sedang dihadapkan pada pengambilan keputusan. Berhenti sejenak. Kenali apa saja yang anda pikirkan tentang isu yang akan anda putuskan. Buatlah tabel dua kolom. Tuliskan poin-poin yang biasa anda pikirkan di kolom sebelah kiri. Setelah anda tulis semua. Berhenti sejenak. Tuliskan di kolom sebelah kebalikan dari yang tertulis di kolom sebelah. Sekarang dengan melihat kolom di sebelah kanan, carilah inpirasi mengenai keputusan yang mungkin bisa anda lakukan.
6. Cek website Kementrian Desain Republik Indonesia di kdri.web.id
Atau buka langsung ke http://menteridesainindonesia.blogspot.com/search/label/NEGERI. Rasakan keliaran imajinasi sang menteri dalam mengimajinasikan sesuatu yang sudah kita anggap biasa-biasa saja.
7. Seandainya….

No comments:

Post a Comment