Semalam, Damai sulit tidur. Gara-gara kipas angin. Damai yang sudah kliyep-kliyep, mau bobo. Tiba-tiba bangun ketika tahu bapaknya datang. “pas anyin, pas anyin” katanya sambil berlari menyambut kipas angin yang tengah saya bawa. Tak terasa 1 jam dia bermain dengan kipas angin. Tidur pun minta ke kamar nenek, tempat kipas angin itu diletakkan. Merengek. Menangis. Memukul pintu kamar. Pokoknya menolak tidur, terlebih di kamarnya sendiri.
“Wah saatnya beraksi nih” ujar saya pada diri sendiri, sambil mengumpulkan energi. Saya mainkan Doo Be Doo-nya Gita Gutawa. Tak beranjak Damai dari pintu kamar neneknya. Barisan Musik-nya Tasya sama tidak mempannya. Harus jurus pamungkas rupanya. Disco Lazy Time! Yap, lagunya Nidji. Langsung Damai mengajukan tangannya. Meminta digendong bapaknya. Saya ayun Damai. Damai menggerakkan badannya. Kepalanya mencari posisi yang paling nyaman. Sebentar kemudian, kami tenggelam dalam tarian ala kami. Perlahan Damai terlelap ditengah hingar bingar Disco Lazy Time. Heran ya? Bukannya lagu yang lembut, justru lagu rancak. Begitulah Damai.
Setiap tim, unit kerja, perusahaan, korporasi, kelompok, pasti punya lagu dan tarian uniknya masing-masing. Apa tarian tim anda? Apa tarian perusahaan anda?
Di Indonesia. Kebanyakan orang memainkan tarian sendiri-sendiri. Sang presiden memainkan suatu tarian. Para menteri memainkan tarian berbeda. Gubernur beda lagi tariannya. Pegawainya? Beda lagi. Kalau Indonesia kita bayangkan sebagai sebuah panggung pementasan. Kita dapat menyaksikan banyak penari yang memainkan tari yang berbeda. Ritme yang berbeda. Spirit yang berbeda. Sebagian penari bergerak cepat ala Tari Saman. Penari lain tetap perlahan bagai Bedoyo Ketawang. Gerak tari tiba-tiba akan sama hanya ketika ada saweran. Hebatnya, para penari itu tetap asyik dengan pementasan itu. Penonton yang pusing menyaksikannya. Begitulah Tarian Indonesia saat ini.
Bagaimana dengan tarian perusahaan anda? Bagaimana ritme dan geraknya? Bagaimana respon penonton?

No comments:
Post a Comment