Hari-hari ini. Saya lagi menikmati lejitan keasyikan Damai, putri semata wayang, dalam berceloteh. Satu kata demi satu kata. Tiba-tiba dalam usianya yang masih belum genap 2 tahun, melejit menjadi dua, tiga bahkan empat kata. Kemarin setelah mandi, Damai menolak pakaian yang akan dipakaikan oleh ibunya buat dirinya. “meme ndak mau ini…yang lain…meme pakai kaos aja…”. Bagi mereka yang memperhatikan anaknya bermain bahasa, setiap tahapannya merupakan keajaiban kecil yang mewarnai hari. Kok ajaib? Bayangkan, anak kita yang sama sekali tidak paham alfabet, bisa-bisanya menggunakan kata dan kalimat menarik.
Lain lagi kisah teman saya yang imut, dewi paling suka menyanyi di karaoke. Kalau sudah nyanyi, habis-habisan katarsis. Menumpahkan seluruh beban dan rasa. Bagaimanapun, saya harus acungi jempol. Habisnya, saya sendiri kalau nyanyi selalu konsisten. Konsisten di luar jalur. Alias fals terus. Herannya, dewi dan saya itu sama-sama tidak bisa membaca not balok. Tidak tahu tata cara menyanyi yang baik dan benar.
Apa yang bisa kita pelajari dari dua contoh tersebut? Secara alami. Secara manusiawi. Kita melakukan segala sesuatunya dengan memahami pola terlebih dahulu, bukan elemen-elemennya. Memahami maksud dan kalimat yang mengandung maksud itu. Bukannya mengenali dan menghafalkan abjad terlebih dahulu. Memahami ritme dan memproduksi suara sesuai ritme itu. Bukannya mengenali not balok dan menghafalkannya terlebih dahulu. Terus terang. Saya minta ampun kalau disuruh ngajari abjad demi abjad ke Damai. Dan lebih minta ampun lagi, kalau disuruh mengenali dan menghafalkan not balok.
Intinya. Kenali pola. Apa pentingnya? Makna suatu pola jauh melampui penjumlahan elemen-elemen pembentuknya. Semisal, 3 warna dasar (merah, hijau dan biru) bisa membentuk sebuah lukisan yang indah. Garing kalau kita menikmati lukisan indah itu dengan mengenali warna dasar yang digunakan. Mahakarya Beethoven “Fur Elize”, Mais Que Nada dari Sergio Mendez, maupun Menghapus Jejakmu Peter Pan diciptakan dari hanya 12 not musik. Dashyat! Seluruh revolusi komputer dan jaman informasi sekarang berpijak pada dua digit, nol dan satu.
Kapasitas mengenali pola ini atau berpikir sistem, merupakan suatu cara memandang keseluruhan, daripada memandang bagian per bagian. Pergeseran dari melihat elemen, kejadian, fungsi menjadi melihat proses, struktur, relasi dan hasil. Cara ini dapat menghindarkan kita dari solusi reaktif, solusi yang berguna secara jangka pendek dan memperparah penyakit dalam jangka panjang. Cara yang dapat memastikan tindakan perubahan dan pembelajaran yang kita lakukan berjalan mulus.
Kapasitas mengenali pola ini atau berpikir sistem, merupakan suatu cara memandang keseluruhan, daripada memandang bagian per bagian. Pergeseran dari melihat elemen, kejadian, fungsi menjadi melihat proses, struktur, relasi dan hasil. Cara ini dapat menghindarkan kita dari solusi reaktif, solusi yang berguna secara jangka pendek dan memperparah penyakit dalam jangka panjang. Cara yang dapat memastikan tindakan perubahan dan pembelajaran yang kita lakukan berjalan mulus.
Bagaimana praktisnya berpikir sistem dalam kehidupan organisasi dan bisnis kita? Salah satunya adalah dengan teknik 5-mengapa. Teknik ini mengurai rantai penyebab suatu persoalan hingga beberapa langkah sebelumnya, dengan mengajukan 5 pertanyaan mengapa kepada suatu gejala. Agar efektif, jawaban atas setiap pertanyaan hendaknya dijauhkan dari tindakan menyalahkan individu. Ingatlah, tujuan kita adalah mendapatkan penjelasan sistemik atas suatu gejala.
Penggunaan teknik ini semakin menarik ketika dikombinasikan dengan teknik memandang dari helikokpter (helicopter view). Berhenti sejenak. Bayangkan, anda menjadi reporter tengah meliput dari sebuah helikopter yang terbang diatas lokasi gejala. Awalnya, bayangkan anda meliput ketika gejala terjadi. Ajukan pertanyaan mengapa. Perluas lingkup waktunya. Anda telah meliput sehari sebelum gejala terjadi. Ajukan pertanyaan mengapa. Perluas terus menjadi seminggu, sebulan, setahun, tiga tahun atau bahkan lebih. Setiap kali bertanya mengapa, perluas lingkup waktunya.
Alkisah, seorang manajer tengah mengunjungi pabrik bersama seorang konsultan. Dalam perjalanan, manajer melihat genangan oli di lantai. Manajer memanggil seorang karyawan dan menegur “Ada oli di lantai itu. Tolong segera bersihkan”. Pada saat itu, sang konsultan menyela, “Mengapa ada oli di lantai?” Sang manajer mengulangi pertanyaan tersebut dan karyawan menjawab, “salah satu mesin mengalami kebocoran”. “Oh begitu….kalau begitu bersihkan oli itu dan perbaiki mesinnya”, ujar sang manajer. “Tapi mengapa mesin itu bocor?”, bisik sang konsultan. “Ups…iya….mengapa mesinnya bocor?”, ulang sang manajer. “Gasketnya tidak baik”. “Oh….jadi bersihkan lantai, perbaiki mesin, dan lakukan sesuatu terhadap gasketnya”, perintah sang manajer. “Dan mengapa gasketnya tidak baik?”, tambah sang konsultan. “Betul….mengapa gasketnya tidak baik?”, lagi-lagi sang manajer mengulang. “Kami diberitahu bagian pembelian mendapatkan banyak masalah dengan gasket-gasketnya”, jawab sang karyawan.
Singkat cerita, setelah kunjungan sang manajer berbicara dengan beberapa orang di kantornya. Dan terlihat, kebijakan perusahaan yang telah dijalankan 2 tahun yang mendorong bagian pembelian untuk mencari harga terendah. Oleh karena itu, perusahaan mendapatkan gasket yang tidak baik, mesin yang bocor dan oli tercecer di lantai. Selain itu, kebijakan tersebut mungkin telah menyebabkan terjadi banyak masalah lain, yang tidak berhubungan erat dalam lingkup waktu dan ruang dengan penyebabnya.
Dalam cerita tersebut, sosok sang manajer menggambarkan kebiasaan kita untuk menempuh solusi cepat terhadap suatu gejala atau persoalan. Solusi yang didasarkan pada cara pandang pada saat itu ketika menghadapi gejala. Penggunaan helicopter view akan memberdayakan kita untuk melihat gejala dalam konteks yang lebih luas. Memungkinkan kita melihat rantai sebab akibat yang melintasi waktu (rentang genangan oli ke kebijakan adalah 2 tahun). Masalah kita hari ini adalah solusi kita kemarin.
Berhenti. Lihatlah polanya. Bertindaklah.
Berhenti. Lihatlah polanya. Bertindaklah.
Sumber: Majalah People & Bussiness

No comments:
Post a Comment