Saya tengah memimpin dua organisasi yang sangat berbeda. Ibarat sebuah musik. Organisasi yang satu seperti rock, keras, bertenaga, cepat, dalam keteraturan yang terpimpin. Organisasi yang lain seperti jazz, ritme penuh improvisasi mendekati liar, bisa penuh keras bertenaga yang tiba-tiba bisa lembut mendayu. Keteraturan dalam ketidakteraturan.
Organisasi yang satu bekerja mengarah pada target. Aturan-aturan yang tertulis. Kualitas yang terjaga. Cepat menyelesaikan pekerjaan. Kepemimpinan yang jelas. Organisasi yang lain. Bekerja mengarah pada kesenangan. Aturan kata-kata. Kualitas terbaik, terkadang menurun. Sungguh menikmati waktu. Kepemimpinan berganti-ganti.
Bayangkan. Bagaimana saya menari di dua pentas tersebut? Atau anda sendiri yang justru mengalami hal seperti itu?
Kenyataannya. Saya masih memainkan musik jazz padahal sudah berada di pentas rock. Atau masih bergerak teratur, ditengah musik yang ritmenya telah berubah-ubah. Saya baru tersadar ketika turun pentas, dan teman yang menonton berkomentar, “kok main musik sendiri? Mabuk ya?!”
Kembali ke tempat kerja. Saya terkadang masih terus menikmati waktu padahal sudah di tempat kerja yang memburu target. Atau masih bersikap serius, penuh perhitungan ketika berada ditempat kerja yang menuntut kreativitas, keberanian melampui batas. “Tubuhku disini, namun hatiku tidak”, kata anak muda yang sok sentimentil.
Pekerjaan dilakukan setengah hati. Mekanis tanpa jiwa. Melakukan hal yang sama dengan berharap mendapatkan hasil yang berbeda. Pekerjaan adalah aktivitas rutin yang membosankan. Pada akhirnya, keluhanlah yang sering meluncur dari mulut saya. “Kok saya cuma mendapat sedikit?” Saya tidak dihargai disini. Saya hanya mendapat pekerjaan yang membosankan. Sama sekali tidak menarik bekerja di tempat ini.
Beruntungnya. Salah satu keberuntungan dalam hidup saya, mempunyai seorang kawan yang luar biasa. Anda salah menduga. Kalau mengira kawan saya ini seorang pebisnis. Atau seorang praktisi. Atau orang yang bekerja di belakang meja. Yah kawan saya ini adalah seorang office boy. Dia baru bekerja di kantor kami. Ketika saya baru mengenal kurang dari sebulan, saya sudah kagum kepadanya.
Dia selalu menawari minum semua karyawan. Tanpa menunggu disuruh. Dia ajukan usul membuat tanda parkir agar karyawan yang lain lebih nyaman dan teratur. Tak jarang, dia langsung mijet karyawan lain yang kelihatan lelah di sela jam istirahat atau selepas jam kerja. Sabar menunggu ketika ada karyawan yang masih harus lembur. Dan tanpa pernah mengeluh.
Tentang tawaran membuat minuman. Awalnya saya kikuk. Sungguh. Apalah artinya saya. Toh dulu saya membuat sendiri minuman saya. Tapi dia selalu menawarkan. Awal yang sungkan segera sirna, diganti menerima tawaran. Sampai sungguh menikmati bantuannya itu. Hingga pada suatu ketika, dia tidak masuk. Tiba-tiba saya merasa kehilangan. Tiba-tiba saya menjadi malas membuat minuman sendiri. Saya pikir-pikir, “Kurang ajar benar dia! Dia mengubah perilaku saya. Dia menciptakan pola dengan tawarannya. Dan saya menjadi tergantung kepadanya”.
“Wah kalau begini, bukankah dia yang justru menjadi the dancing leader? Bukankah dia yang menciptakan pola dan saya mengikutinya?” gerutu saya dalam hati.
Kok bisa ya? Saya bukan orang yang perhatian terhadap orang lain. Saya tidak tahu persis apa yang ada di hati kawan saya ini. Bagaimana dia menganggap pekerjaannya? Saya cuman menduga. Mungkin dia bangga dengan pekerjaan sebagai office boy. Mungkin dia menganggap pekerjaannya begitu berharga. Tidak saja bagi dirinya. Tapi bagi seluruh kantor. Bekerja ya bekerja. Tidak usah pakai beban macam-macam, yang penting menebar gairah hidup.
Inilah inti langkah keempat dari seorang The Dancing Leader. Menyatu hati-gerak dengan keseluruhan pementasan tari. Menyatu hati dengan ritme musik. Menyatu hati dan gerak dengan penari yang lain. Menyatu dengan pentas pilihan kita. Menjadi kesatuan tak terpisahkan.
Mari kita refleksikan kembali perjalanan seorang The Dancing Leader. Dimulai dengan mengenali dan menggunakan kekuatan kita. Sebagaimana kawan saya yang menyadari kekuatannya pada kerendahan hati dan pelayanan sepenuh hati. Dilanjutkan dengan mengenali pola kehidupan dalam suatu organisasi. Kapan organisasi ini dipuncak kehidupan? Kapan organisasi ini mulai merasa lelah? Bagaimana proses mencapai hasil?
Berhenti sejenak dalam ketidaktahuan untuk mengimajinasikan tarian semesta. Membayangkan bagaimana indahnya dia menggunakan kekuatan, membuat kekuatannya berarti ditengah pola kehidupan organisasi. Diakhiri dengan penuh semangat masuk dalam pentas memainkan tarian semesta bersama-sama seluruh pementasan. Penuh kesungguhan. Melupakan yang lain. Lebur dalam kesatuan.
Bagaimana caranya kita bisa lepas menari di pementasan yang kita masuki? Bagaimana kita total bekerja di tempat kerja kita? Bagaimana kita memimpin dalam kesatuan organisasi kita?
Bagaimana caranya kita bisa lepas menari di pementasan yang kita masuki? Bagaimana kita total bekerja di tempat kerja kita? Bagaimana kita memimpin dalam kesatuan organisasi kita?
- Presence. Letting Go – Letting Come. Tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang saya rasakan hari ini?” Apabila anda merasa sesuatu yang tidak nyaman, sadari ketidaknyamanan itu. Ambillah dan letakkan ketidaknyamanan itu pada suatu tempat yang jauh. Biarkan ia pergi sementara waktu. Ajukan pertanyaan, “Apa yang ingin saya rasakan hari ini?” Bagaimana caranya saya siap dan terbuka untuk merasakan perasaan itu? Apa yang bisa saya lakukan?” Mungkin berhenti sejenak. Mungkin mendengarkan sebuah lagu. Mungkin dengan merentangkan tubuh. Mungkin pergi ke toilet. Lakukanlah! Biarkan perasaan indah itu memasuki diri anda. Berada sepenuhnya di kantor anda!
- Gunakan DAN, bukannya ATAU. Pemimpin hebat adalah pemimpin yang berusaha mengintegrasikan semua orang, berbagai kekuatan, setiap kemungkinan, sebanyak mungkin pilihan. Ketika ada orang lain yang memberikan tawaran untuk memilih, yang pastinya menggunakan ATAU. “Pilih ini ATAU itu?!” Tanyakan dalam diri anda, “Bagaimana kalau ini DAN itu? Apa cara yang mungkin dilakukan?”
- Perhatikan dan apresiasi gerakan penari yang lain. Kalau ada yang salah, jangan berhenti terus memarahi kawan kita yang salah. Improvisasi. Lakukan gerakan hingga penonton tercermat pun tidak menyadari gerakan tarian kita. Ketika ada rekan kerja atau bawahan yang salah, perbaiki tanpa menarik perhatian yang lain. Bila sudah selesai dan waktunya tepat, beri umpan balik positif. Jaga unit kerja atau perusahaan anda tetap utuh.
- Ceritakan kejadian menarik ke semua orang. Kalau anda meyakini opini, argumentasi, dan data adalah alat yang ampuh untuk menyebarkan pengetahuan, sudah saatnya anda meninggalkan keyakinan itu. Kebanyakan akan mendengarkan anda justru ketika anda bercerita. Anda membuat orang menjadi aktif membayangkan, mengkreasi bayangan yang jauh lebih meninggalkan kesan dalam benak. Dengan bercerita, anda menyebarkan pola, kebiasaan, nilai, keyakinan kepada banyak orang. Pilih kejadian menarik. Kejadian berhasil yang mengesankan. Kejadian puncak. Ciptakan film dalam benak anda. Ceritakan dengan penuh penghayatan. Cerita yang saling dipertukarkan akan membentuk pola. Pola yang membantu anda dan organisasi untuk menyatu. Sekaligus, bersama-sama belajar bagaimana mengulangi kejadian berhasil atau bahkan melejitkan kejadian berhasil tersebut.
Bila juga tidak berhasil menyatu, kembalilah ke awal The Dancing Leader. Mungkin anda bukanlah orang yang lihai memainkan tarian tango. Mungkin anda bukan orang yang tepat untuk menangani pekerjaan di organisasi kerja saat ini. Mungkin tarian kepemimpinan anda tetap tidak sesuai dengan penari yang lain. Bila demikian. Carilah kekuatan anda. Cari pementasan yang tepat dan gunakanlah.

No comments:
Post a Comment